<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10043995&amp;blogName=...+pandiran+....&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fbapandir.blogspot.com%2F&amp;blogLocale=en_US&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fbapandir.blogspot.com%2Fsearch" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div><!-- --><div id="b-navbar"><a href="http://www.blogger.com/" id="b-logo" title="Go to Blogger.com"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/3/logobar.gif" alt="Blogger" width="80" height="24" /></a><form id="b-search" action="http://www.google.com/search"><div id="b-more"><a href="http://www.blogger.com/" id="b-getorpost"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/3/btn_getblog.gif" alt="Get your own blog" width="112" height="15" /></a><a href="http://www.blogger.com/redirect/next_blog.pyra?navBar=true" id="b-next"><img src="http://www.blogger.com/img/navbar/3/btn_nextblog.gif" alt="Next blog" width="72" height="15" /></a></div><div id="b-this"><input type="text" id="b-query" name="q" /><input type="hidden" name="ie" value="UTF-8" /><input type="hidden" name="sitesearch" value="freeze-d.blogspot.com" /><input type="image" src="http://www.blogger.com/img/navbar/3/btn_search.gif" alt="Search" value="Search" id="b-searchbtn" title="Search this blog with Google" /><a href="javascript:BlogThis();" id="b-blogthis">BlogThis!</a></div></form></div><script type="text/javascript"><!-- function BlogThis() {Q='';x=document;y=window;if(x.selection) {Q=x.selection.createRange().text;} else if (y.getSelection) { Q=y.getSelection();} else if (x.getSelection) { Q=x.getSelection();}popw = y.open('http://www.blogger.com/blog_this.pyra?t=' + escape(Q) + '&u=' + escape(location.href) + '&n=' + escape(document.title),'bloggerForm','scrollbars=no,width=475,height=300,top=175,left=75,status=yes,resizable=yes');void(0);} --></script><div id="space-for-ie"></div>
sore ini di tepi karang mumus
sepasang timpakul bercanda di jamban tua
mentari senja mewarna di angkasa
tapi ia tak lagi jingga
warna telah pudarnya
tersisa hanya kelam
tanpa hadirkan bayang

sepasang timpakul masih bercanda di jamban tua
titik hujan menetes perlahan basahi tanah merah tepi karang mumus
tak ada lagi pepohonan yang selalu nantikan hadirnya
tak ada lagi seekor macaca tua yang berlindung dibawah tajuk rindangnya
mereka telah pergi
tinggalkan sepasang timpakul yang tetap asyik masyuk bercanda di jamban tua

sepasang timpakul semakin riang bercanda di jamban tua
walau mentari tak lagi berwarna jingga
walau tak lagi ada pepohonan di tepian
walau tak ada lagi teriak beringas macaca
ia tetap bercanda
hingga akhirnya mereka tak lagi bisa bercanda
karena karang mumus akan menjadi jalan kota


profileprofil
hidup di sebuah kota kecil di tepian sungai mahakam merupakan hal yang membahagiakan... walau tak lagi banyak pepohonan, rawa dan hutan kota.... saat ini menapaki kehidupan dengan belajar pada alam dan berbagi pada sesama.... archivearsip
l i n ktautan
support bydidukung
[ 1.7.09 ]
sampah konservasi
Oleh karena laut Sawu sebagai jalur pelayaran nasional, para pemangku
kepentingan yang tengah mengikuti workshop soal Laut Sawu akan berperan
untuk meningkatkan kesadaran pengguna jalur itu untuk tidak membuang sampah
sembarangan. [Kompas]

sungguh sebuah cara pandang tentang kawasan konservasi yang semakin tak
jelas. konservasi hanya dipandang sebagai sebuah permasalahan "jangan buang
sampah sembarangan". sementara kemudian, sistem kelola kekayaan alam secara
tradisional mulai digerus.

tak lama berselang, pasti akan datang investasi. untuk wisata ataupun
untuk penelitian. seketika itu juga, kawasan konservasi akan menjadi
kawasan tertutup bagi penduduk negeri ini. di sisi lain, peneliti asing dan
turis tak berambut hitam, akan hilir mudik. bisa jadi terumbu karang dan
mineral akan kembali diselundupkan untuk diteliti. dan kemudian pada
waktunya, terpancanglah rig lepas pantai yang akan menguas habis kekayaan
alam negeri ini.

begitu mudahnya pemerintah terbuai janji palsu. yang tak lagi dikelabui
oleh mereka yang dari utara. namun oleh para komprador yang seolah
menawarkan kebaikan. wilayah mana lagi yang ingin dijajah? karena tak ada
lagi wilayah negeri ini yang belum tergadaikan pada para penjajah.

pada sampah konservasi !

[ 27.6.09 ]
mafia carbon
perdebatan terkait dengan upaya-upaya mitigasi perubahan iklim masih terus
berlangsung. mulai dari usulan menjaga stok karbon di hutan dan lahan,
hingga bagaimana upaya reforestasi dan aforestasi kembali memperoleh
kompensasi. yang walau tak lagi menggunakan tanaman berkayu.

para mafia carbon bergentayangan. mencoba meraih bubuhan tanda tangan pada
berlembar kertas. agar kemudian memperoleh kontrak eksklusif.

walau belum tentu akan memperoleh uang, mereka pun tak akan merugi. semua
pembiayaan dibebankan pada mereka yang mengelola kawasan hutan. banyak
kepala daerah telah terbelit dengan sebuah perjanjian yang penuh dengan
ketidakpastian.

apa yang terjadi kemudian, tak pernah dipikirkan. ketika mekanisme
perdagangan telah terjadi, maka hampir 70% dana yang mengalir, akan masuk
ke tangan para mafia carbon. selebihnya, bila terjadi "kebocoran" karbon,
maka pengelola hutanlah yang harus membayar pinalti, yang pada beberapa
perjanjian, jumlahnya tiga kali lebih besar dari uang yang didapat.

mau untung malah bakal buntung. inilah bisnis yang ditawarkan. dan
anehnya, delegasi negeri ini di perundingan komisi dunia perubahan iklim,
malah "mengemis" untuk memperolehnya. seakan tak mau merugi, ketiga skema
pembiayaan yang ditawarkan, dana hibah, perdagangan karbon dan utang
karbon, diambil dengan bangganya.

lalu, akankah negeri ini akan memperoleh manfaat? TIDAK! dan tidak akan
pernah. karena lahan dan hutan telah tergadaikan. komunitas lokal akan
tersingkirkan. eksplorasi aset-aset alam semakin menggila. kedaulatan,
tergadaikan!

pada mafia carbon !

[ 10.6.09 ]
mereka tak mau diorganisir NGO
Aksi yang dilakukan oleh pemuda dan masyarakat di Korea, dilakukan dengan
mengirimkan pesan dari orang ke orang. dalam message board, mereka
meninggalkan pesan dan satu per satu mulai merespon. dan kemudian waktu
ditentukan, titik bertemu disiarkan.

mereka berkumpul. pada sebuah panggung demokrasi, begitu sebutannya.
membawa sendiri pesan yang ingin disampaikan. bersama-sama menyuarakan.
dari hanya 50 ribu orang hingga mencapai 500 ribu orang. pada sebuah
tempat.

apa yang kemudian terjadi bila NGO mulai meneruskan aksi dan mengorganisir
mereka? satu persatu, perlahan, meninggalkan panggung demokrasi. tak ada
keinginan untuk diorganisir oleh NGO. bisa jadi, karena mereka tak lagi
percaya dengan NGO. dan bisa jadi, karena mereka lebih yakin dengan suara
mereka, tanpa NGO. kalau sudah begitu, apakah masih perlu NGO?

begitulah celoteh dari seorang kawan dari Korea yang sedang berjalan
keliling asia. yang sedang mencoba mengenal permasalahan sosial dan
lingkungan hidup di negara-negara asia.

hanya sebuah panggung hiburan
"itu yang nanya pasti sudah dikasih pertanyaan sama tim suksesnya ya" ujar
seorang bapak sambil terus menghisap rokok kreteknya saat menyaksikan
dialog calon presiden di sebuah stasiun televisi swasta, yang juga miliki
pengusaha yang menjadi bagian tim sukses salah satu calon presiden.

"lha... kok nanyanya nggak keren amat sih" ujar yang lain.

"lho... sekarang kok makin aneh pertanyaannya"

"nah... yang ini nggak aneh lagi, karena calon presiden ini memang paling
bodo, njawabnya ngasal"

perbincangan seliweran ini kerap kali terdengar saat calon presiden
ataupun calon wakil presiden melakukan dialog di televisi. ungkapan yang
bernada sesal, telah memiliki sebuah republik dengan tanpa calon presiden
yang benar-benar akan memimpin negeri dengan baik dan benar, selalu
bermunculan. namun jarang sekali muncul, ketika kemudian terbawa dengan
angan-angan kepalsuan.

pangung politik, bak panggung antah berantah yang tak jelas hendak kemana
bergeraknya. semua ribut untuk berebut posisi. dan hanya berpikir tentang
kemenangan sebuah kelompok.

"apa calon presiden yang itu sudah siap kalah ya?" tanya seorang kawan.

kalah menang, kadang menjadi soal. masalahnya adalah harus menang. tak ada
kalimat kekalahan dan bisa jadi, memang tak terlalu siap untuk kalah. untuk
bertanding lagi di periode mendatang, terlalu lama, dan bisa jadi sudah
dijemput ajal.

presiden, bukanlah sebuah jabatan publik, yang akan berpikir bagi publik.
sama halnya dengan gubernur ataupun walikota atau bupati. apalagi hanya
sekedar jabatan anggota DPR(D). segalanya hanyalah menjadi pekerjaan. bukan
bagi sebuah amanat publik.

apalagi ketika mau membedah platform dari calon presiden dan calon wakil
presiden. masih terlalu jauh dari konstitusi negeri. berkata bukan menganut
paham neo-liberalisme, namun terus mengundang dan memfasilitasi penjajahan
ekonomi. berkata membangun ekonomi rakyat, tapi hanya bagi sebagian rakyat
yang menjadi tim sukses.

atau, mungkin negeri ini tidak sedang butuh seorang pemimpin. negeri ini
hanya butuh waktu untuk kematian massal tiga generasi, agar generasi
kemudian dapat membangun negeri dengan sebuah keikhlasan dan solidaritas.
bisa jadi ini benar-benar terjadi, yang mungkin saja di tahun ketiga
periode pemerintahan kali ini. bersamaan dengan musnahnya 60% penghuni bumi
akibat bencana ekologi.

[ 3.6.09 ]
pisau itu digunakan untuk membunuh
harusnya masih belum terlupakan, sebuah debat berkepanjangan antara
blogger, ahli pornomatika dan Departemen Komunikasi dan Informasi, ketika
pertama kali UU Informasi dan Transaksi Elektronik disahkan. debat
berkepanjangan hanyalah seputar situs porno. yang kemudian entah kapan,
debat itu berakhir dengan sendirinya. bahkan sebuah meja pertarungan dibuka
juga saat itu, blogger vs pornomatika.

dalam diskusi di bulan April tahun lalu, di kota kayu, saya coba
memberikan pandangan terkait dengan UU ITE ini. dia bagaikan sebuah pisau,
tergantung siapa yang akan menggunakannya. sisi positif dari undang-undang
ini tidak sedikit. mungkin bisa membantu proses penyelamatan hutan tropis
yang tersisa. namun UU ITE bisa juga menjadi sebuah pisau pembunuh daya
kritis dan kreatif.

dalam diskusi, saya juga paparkan bahayanya UU ITE ini. salah satunya
adalah pasal "karet" yang bisa digunakan untuk "membunuh" para blogger
ataupun pegiat dunia maya. korban pun mulai berjatuhan. bahkan oleh sebuah
rumah sakit yang katanya internasional. kawan saya berujar "mungkin rumah
sakit itu sudah mau bangkrut ya? jadi dia pakai saja kesempatan komplain
pasiennya untuk mencari tambahan penghasilan.".

namun, hingga saat ini setelah bergulirnya gugatan hukum perdata dan
pidana yang terus berlangsung, belum jua ada respon dari Menteri Komunikasi
dan Informasi. walau pernah Menkominfo Mohammad Nuh mengizinkan Mahkamah
Konstitusi untuk mencabut pasal 27 ayat 3 dalam saat diuji dalam judicial
review Mahkamah Konstitusi [inilah.com - yuhendra]. namun Mahkamah
Konstitusi telah menggugurkan gugatan untuk penghilangan pasal tersebut.
Menkominfo seolah bungkam dan lepas tangan terkait dengan pembunuhan daya
kritis dan kreatif anak negeri.

kasus dan banyak kasus lainnya yang bisa akan terus terjadi. negeri ini
seolah telah menjadi milik uang dan kekuasaan. saatnya blogger untuk
menyatukan diri untuk melawan pembungkaman dan "pembunuhan" yang masih akan
terus terjadi.

pada sebuah pisau !

[ 2.6.09 ]
pasal karet mulai beraksi
Pasal 27 (3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan
dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan
dan/atau pencemaran nama baik. Pasal 45 (1) Setiap Orang yang memenuhi
unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3),
atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). [UU
Informasi dan Transaksi Elektronik]

pasal karet mulai digunakan untuk menyelepet pihak yang lemah dalam
konteks hukum. kekuatan hukum yang lebih dikuasai bagi yang ber"punya",
baik kuasa, modal maupun pengetahuan, telah menjadikan pihak yang menuntut
keadilan menjadi terpinggirkan.

proses-proses pembungkaman terhadap daya kritis, mulai bergerak. beragam
upaya meraih keadilan dan mengungkapkan kebenaran, mulai diredam.
penggunaan pasal-pasal "karet" kembali berlangsung. sebuah praktek untuk
menghabiskan daya kritik dan daya kreatif anak negeri.

tak ada pilihan, kecuali mulai memperkuat perlawanan. bersatu, bersarekat,
berlawan.

pada pasal karet !

[ 1.6.09 ]
pasal karet mulai beraksi
Pasal 27 (3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan
dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan
dan/atau pencemaran nama baik. Pasal 45 (1) Setiap Orang yang memenuhi
unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3),
atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). [UU
Informasi dan Transaksi Elektronik]

pasal karet mulai digunakan untuk menyelepet pihak yang lemah dalam
konteks hukum. kekuatan hukum yang lebih dikuasai bagi yang ber"punya",
baik kuasa, modal maupun pengetahuan, telah menjadikan pihak yang menuntut
keadilan menjadi terpinggirkan.

proses-proses pembungkaman terhadap daya kritis, mulai bergerak. beragam
upaya meraih keadilan dan mengungkapkan kebenaran, mulai diredam.
penggunaan pasal-pasal "karet" kembali berlangsung. sebuah praktek untuk
menghabiskan daya kritik dan daya kreatif anak negeri.

tak ada pilihan, kecuali mulai memperkuat perlawanan. bersatu, bersarekat,
berlawan.

pada pasal karet !

[ 31.5.09 ]
dunia lain itu mungkin !
"gimana kalo memperkuat gerakan komunitas adat dan lokal dari berbagai
belahan dunia. saya lebih percaya bahwa perubahan akan terjadi bila
persatuan gerakan sosial semakin menguat" ujar seorang aktivis partai
sosial demokrat yang juga seorang dosen filsafat.

world social forum. sebuah pertermuan tahunan yang diselenggarakan oleh
para anggota sayap kiri gerakan globalisasi alternatif untuk mengkoordinasi
kampanye dunia, menyumbangkan dan menyempurnakan strategi organisasi, dan
memberitahu sesama anggota mengenai gerakan dari seluruh dunia tentang
berbagai isu. sebuah perlawanan terhadap sistem yang menguasai dunia
melalui gerak kapital.

negeri ini, masih terlalu jauh untuk membangun sebuah solidaritas.
kegagapan dalam memahami ideologi gerak, membangun fragmentasi, menuai
keberlanjutan penindasan.

perlahan. satu dan satu. memulai langkah mengurai bangun baru. tahun
mendatang, mulai menapaki ruang dalam bumi yang sama.

pada dunia lain !

[ 28.5.09 ]
itu urusan negara anda !
"mengapa anda tidak lakukan desakan kepada pemerintah anda, itu kan urusan
negara anda", ujar salah satu politikus dari sebuah partai di helsinki.

berbincang tentang biofuel dari minyak sawit dengan para politikus di
negara yang memiliki sebuah perusahaan minyak yang 50,1% sahamnya dimiliki
oleh negara memberikan gambaran yang berbeda, bagaimana utara melihat
selatan. mereka yang berasal dari partai sayap kiri cenderung lebih mudah
diberikan gambaran tentang konflik sosial dan kehancuran lingkungan. bagi
partai garis tengah menjadi sulit, dan bagi yang ada di sayap kanan, lebih
melelahkan.

cara pandang politikus, melihat bahwa sebuah negara itu bebas dan
independen dalam menentukan pilihannya. dan negara lain tidak ada hak untuk
melakukan intervensi. kalau memang tak ingin menjual minyak sawit, harusnya
negara tersebut yang mengatakan. bukan dengan mendesak negara lain untuk
mengurangi permintaan minyak sawit. mungkinkah karena ia berada dalam
tempurung, hingga tak melihat bahwa ia sedang tinggal pada bumi yang sama?

"kami belum punya posisi terhadap energi nuklir, walau saya tidak setuju
dengan menggunakan nuklir untuk energi", ujar politikus lain dari partai
sosial demokratik.

membongkar energi hijau, melahirkan perdebatan tersendiri. adakah
alternatif bagi utara? atau memang pilihannya hanyalah bahan bakar fosil?
bagaimana dengan biofuel dari lemak satwa? atau dari sisa sampah rumah
tangga? hingga tak perlu terlalu banyak menggunakan minyak sawit untuk
biofuel.

pada urusan negara anda !

itu urusan negara anda !
"mengapa anda tidak lakukan desakan kepada pemerintah anda, itu kan urusan
negara anda", ujar salah satu politikus dari sebuah partai di helsinki.

berbincang tentang biofuel dari minyak sawit dengan para politikus di
negara yang memiliki sebuah perusahaan minyak yang 50,1% sahamnya dimiliki
oleh negara memberikan gambaran yang berbeda, bagaimana utara melihat
selatan. mereka yang berasal dari partai sayap kiri cenderung lebih mudah
diberikan gambaran tentang konflik sosial dan kehancuran lingkungan. bagi
partai garis tengah menjadi sulit, dan bagi yang ada di sayap kanan, lebih
melelahkan.

cara pandang politikus, melihat bahwa sebuah negara itu bebas dan
independen dalam menentukan pilihannya. dan negara lain tidak ada hak untuk
melakukan intervensi. kalau memang tak ingin menjual minyak sawit, harusnya
negara tersebut yang mengatakan. bukan dengan mendesak negara lain untuk
mengurangi permintaan minyak sawit. mungkinkah karena ia berada dalam
tempurung, hingga tak melihat bahwa ia sedang tinggal pada bumi yang sama?

"kami belum punya posisi terhadap energi nuklir, walau saya tidak setuju
dengan menggunakan nuklir untuk energi", ujar politikus lain dari partai
sosial demokratik.

membongkar energi hijau, melahirkan perdebatan tersendiri. adakah
alternatif bagi utara? atau memang pilihannya hanyalah bahan bakar fosil?
bagaimana dengan biofuel dari lemak satwa? atau dari sisa sampah rumah
tangga? hingga tak perlu terlalu banyak menggunakan minyak sawit untuk
biofuel.

pada urusan negara anda !